SEPOTONG RUANG DI HATIKU
Icha Koraag
Tetes embun dikelopak mawar
Pertanda kesegaran dan keindahan
Sayang, merahmu tak lagi sama dengan merahku
Birumu bukan lagi biruku
Mentari yang terbit tak lagi sama seperti kemarin
Ia bersinar seperti mengejek dan mentertawakan
Karena luka hati yang mengoyak jiwa
Membuat kepingan hati sulit direkat
Tetes embun mulai menguap
karena matahari bersinar keras
tinggalkan bekas kilau daun
Seperti jejakmu pada tubuhku
Tak ingin kumenangis
Walau janji tak bisa kau genapi
bagimu tetap ada sepotong ruang di hatiku.
Karena putihmu masih putihku
(Kamis, 30 Nov 2006)
Wednesday, November 29, 2006
PENANTIAN
PENANTIAN
Icha Koraag
Perahu keting-ting perlahan laju
Membelah sungai
Tempat dulu kita bersenda gurau
Merajut kasih
Laju perahu keting-ting masih sama
Seperti sepuluh tahun lalu
Saat ku lepas kau mengejar takdir
Tinggalkan buih air di sungai
Sungai dalam jiwaku
senantiasa mengalirkan rasa rindu
Meluapkan dahaga emosiku
harapkan sentuhan kasihmu, yang kupelihara berbilang tahun.
Saat ku lihat seraut wajah di atas keting-ting
Aku tak sanggup bicara,
Itu sosokmu, walau ada keriput di kening
Suaramu tuntaskan penantianku
Aku pulang! Ucapmu.
(30 Nov 2006)
Icha Koraag
Perahu keting-ting perlahan laju
Membelah sungai
Tempat dulu kita bersenda gurau
Merajut kasih
Laju perahu keting-ting masih sama
Seperti sepuluh tahun lalu
Saat ku lepas kau mengejar takdir
Tinggalkan buih air di sungai
Sungai dalam jiwaku
senantiasa mengalirkan rasa rindu
Meluapkan dahaga emosiku
harapkan sentuhan kasihmu, yang kupelihara berbilang tahun.
Saat ku lihat seraut wajah di atas keting-ting
Aku tak sanggup bicara,
Itu sosokmu, walau ada keriput di kening
Suaramu tuntaskan penantianku
Aku pulang! Ucapmu.
(30 Nov 2006)
APAKAH TUHAN LAKI-LAKI?
Gemuruh ombak buyarkan lamunanku
Teriakan camar kembalikan alam sadarku
Di pantai pemikiran ini kembali kuberdiri
Dalam perenungan tiada akhir
Mengapa manusia masih menghinakan sesama manusia?
Mengapa perempuan masih di nomor duakan atas nama agama?
Apakah karena para nabi lelaki?
Lalu kemana aku harus mencari jawab
Mengapa tak ada nabi perempuan.
Haruskah ku maknai kalau Tuhan itu laki-laki?
Terkutuklah hambamu ini, ya Tuhan!
Masih belum berakhir kekerasan atas nama agama
Dan itu membuatku semakin merasa sakit.
Karena manusia sebagai mahluk paling mulia yang kau ciptakan
Tak lebih daripada sesama tiran yang selalu saling membinasakan.
Damai, kasih, sayang, penghormatan
hanyalah deretan huruf yang membentuk kata tanpa makna
Inikah mahluk yang kau cintai ya Tuhan?
Atau salah aku memahami pendengaran dan penglihatanku?
Apakah anak-anak yang dilahirkan para perempuan
Hasil perbuatan para perempuan itu sendiri ?
Apakah masa depan, pendidikan dan pertumbuhan mereka
Hanya tanggung jawab para perempuan itu juga?
Apakah para lelaki, setelah membuang sperma dalam rahim perempuan
Punya kewajiban sebatas pencari nafkah lahir?
Apakah keberhasilan anak-anak yang di tetaskan atas nama cinta
Hanya ditentukan oleh para perempuan?
Tapak kakiku di pasir, terhapus sapuan ombak
Sama seperti buah pikirku yang tak berbekas
Pada hati manusia yang membantu
Padahal aku hanya mengingatkan
Laki-laki dan perempuan punya peran yang sama besar dalam mengasuh anak-anak.
Apalagi atas nama agama.
Icha yang terpekur dalam pemikiran
Dan perenungan sendiri.
29 Nov 2006
Teriakan camar kembalikan alam sadarku
Di pantai pemikiran ini kembali kuberdiri
Dalam perenungan tiada akhir
Mengapa manusia masih menghinakan sesama manusia?
Mengapa perempuan masih di nomor duakan atas nama agama?
Apakah karena para nabi lelaki?
Lalu kemana aku harus mencari jawab
Mengapa tak ada nabi perempuan.
Haruskah ku maknai kalau Tuhan itu laki-laki?
Terkutuklah hambamu ini, ya Tuhan!
Masih belum berakhir kekerasan atas nama agama
Dan itu membuatku semakin merasa sakit.
Karena manusia sebagai mahluk paling mulia yang kau ciptakan
Tak lebih daripada sesama tiran yang selalu saling membinasakan.
Damai, kasih, sayang, penghormatan
hanyalah deretan huruf yang membentuk kata tanpa makna
Inikah mahluk yang kau cintai ya Tuhan?
Atau salah aku memahami pendengaran dan penglihatanku?
Apakah anak-anak yang dilahirkan para perempuan
Hasil perbuatan para perempuan itu sendiri ?
Apakah masa depan, pendidikan dan pertumbuhan mereka
Hanya tanggung jawab para perempuan itu juga?
Apakah para lelaki, setelah membuang sperma dalam rahim perempuan
Punya kewajiban sebatas pencari nafkah lahir?
Apakah keberhasilan anak-anak yang di tetaskan atas nama cinta
Hanya ditentukan oleh para perempuan?
Tapak kakiku di pasir, terhapus sapuan ombak
Sama seperti buah pikirku yang tak berbekas
Pada hati manusia yang membantu
Padahal aku hanya mengingatkan
Laki-laki dan perempuan punya peran yang sama besar dalam mengasuh anak-anak.
Apalagi atas nama agama.
Icha yang terpekur dalam pemikiran
Dan perenungan sendiri.
29 Nov 2006
Wednesday, November 22, 2006
ANAK-ANAK BUAH PIKIRANKU
Anak-anak buah pikiranku melonjak-lonjak dalam benak
Menari-nari bahkan cenderung meronta-ronta
Karna tak tahan terkukung dalam sebuah konsep
Anak-anak buah pikiranku mencoba menggedor
Membunyikan peringatan akan keberadaan mereka padaku
Supaya aku ingat pada mereka
Ya...ya...aku tahu dan aku ingat, jawabku
Anak-anak buah pikiranku ada di sana
Belum waktunya kalian kulahirkan
Kalian masih prematur, mentah.
Kalau kulahirkan sekarang
Selain akan menuai cela, kalianpun akan mati.
Karena benakku pun masih lemah
Masih butuh vitamin pengetahuan
Dan obat kuat untuk tahan malu
Sabar-lah. Berdiamlah sejenak kalian di situ
Saat kebutuhan gizi kalian kupenuhi
Dari buku buku pengetahuan yang ku baca
Maka benakku akan kuat dan kalian pun matang,
pada saat-saat seperti itu
Kita sama-sama siap menerima apresiasi orang
Di cela dan di hina tidak akan kita rasakan
Kita justru menjadi kuat karna celaan
Dan itu berarti kita mencuri perhatian mereka.
Uh rasa mulas itu datang...
Aku akan masuk ruang komputer
Bersabarlah, jangan keluar dulu.
Jika kalian aku keluarkan di saat kerja,
Aku bisa dapat marah dari bos
Kata Bos, aku korupsi waktu
Percayalah kalian akan lahir malam ini
Pukul 9 kurang sedikit setelah Bas dan Van tertidur
Agar mereka tak melihat proses kelahiran kalian
Bila besok kukabarkan kelahiran kalian di milis
Bas dan Van tak akan cemburu
Karena kalian hanya anak-anak buah pikiranku.
(Icha 22 Nov 2006)
Menari-nari bahkan cenderung meronta-ronta
Karna tak tahan terkukung dalam sebuah konsep
Anak-anak buah pikiranku mencoba menggedor
Membunyikan peringatan akan keberadaan mereka padaku
Supaya aku ingat pada mereka
Ya...ya...aku tahu dan aku ingat, jawabku
Anak-anak buah pikiranku ada di sana
Belum waktunya kalian kulahirkan
Kalian masih prematur, mentah.
Kalau kulahirkan sekarang
Selain akan menuai cela, kalianpun akan mati.
Karena benakku pun masih lemah
Masih butuh vitamin pengetahuan
Dan obat kuat untuk tahan malu
Sabar-lah. Berdiamlah sejenak kalian di situ
Saat kebutuhan gizi kalian kupenuhi
Dari buku buku pengetahuan yang ku baca
Maka benakku akan kuat dan kalian pun matang,
pada saat-saat seperti itu
Kita sama-sama siap menerima apresiasi orang
Di cela dan di hina tidak akan kita rasakan
Kita justru menjadi kuat karna celaan
Dan itu berarti kita mencuri perhatian mereka.
Uh rasa mulas itu datang...
Aku akan masuk ruang komputer
Bersabarlah, jangan keluar dulu.
Jika kalian aku keluarkan di saat kerja,
Aku bisa dapat marah dari bos
Kata Bos, aku korupsi waktu
Percayalah kalian akan lahir malam ini
Pukul 9 kurang sedikit setelah Bas dan Van tertidur
Agar mereka tak melihat proses kelahiran kalian
Bila besok kukabarkan kelahiran kalian di milis
Bas dan Van tak akan cemburu
Karena kalian hanya anak-anak buah pikiranku.
(Icha 22 Nov 2006)
Friday, November 17, 2006
Harapan
Tuhan tidak buta
Tuhan tidak tuli
Tuhan juga tidak akan tinggal diam
Bila waktunya tiba
ketika terompet sangkakala terdengar
dan semua pintu-pintu kebohongan terbuka
semua fakta-fakta yang disembunyikan terungkap
Semua lidah kelu akan berbicara
Semua tinta yang ada akan menyatu dengan pena
di mayapada kebenaran akan ditulis
setiap telinga mendengar
setiap mata melihat
setiap mulut mengucap
Harta tak lagi bermakna
pangkat tak lagi berarti
individu akan berhadapan
dalam pengadilan milik Tuhan
Nurani dan kejujuran
menjadi ukuran mutlak
atas setiap perbuatan
Damaimu
Damaiku
Damai kita!
Icha 17 Nov 2006
Tuhan tidak tuli
Tuhan juga tidak akan tinggal diam
Bila waktunya tiba
ketika terompet sangkakala terdengar
dan semua pintu-pintu kebohongan terbuka
semua fakta-fakta yang disembunyikan terungkap
Semua lidah kelu akan berbicara
Semua tinta yang ada akan menyatu dengan pena
di mayapada kebenaran akan ditulis
setiap telinga mendengar
setiap mata melihat
setiap mulut mengucap
Harta tak lagi bermakna
pangkat tak lagi berarti
individu akan berhadapan
dalam pengadilan milik Tuhan
Nurani dan kejujuran
menjadi ukuran mutlak
atas setiap perbuatan
Damaimu
Damaiku
Damai kita!
Icha 17 Nov 2006
Wednesday, October 18, 2006
KEYAKINAN
Di depan altar itu, ku tahu kau tergetar
Tak menyangka, kita berhadapan
Di depan Tuhan dan jemaat
Sebagai saksi pernikahan kita
Delapan tahun merajut hari
Merenda janji sehidup semati
Di teguhkan Senin, 8 Juli 1996
Tak terasa sepuluh tahun telah berlalu
Kita masih saling memiliki
Diantara Bas dan Van, buah cinta kita
Walau ombak, badai dan gelombang menghantam
Getar rasa itu tak pernah pudar
Karena ku tahu, siapa jurumudi biduk rumah tanggaku
Icha koraag 1/10-2006
Tak menyangka, kita berhadapan
Di depan Tuhan dan jemaat
Sebagai saksi pernikahan kita
Delapan tahun merajut hari
Merenda janji sehidup semati
Di teguhkan Senin, 8 Juli 1996
Tak terasa sepuluh tahun telah berlalu
Kita masih saling memiliki
Diantara Bas dan Van, buah cinta kita
Walau ombak, badai dan gelombang menghantam
Getar rasa itu tak pernah pudar
Karena ku tahu, siapa jurumudi biduk rumah tanggaku
Icha koraag 1/10-2006
RINDU
Tetes hujan menyempurnakan rasaku
Senyumanmu pun tak pudar
Walau purnama tak nampak
rindu ini masih menggelora
ingatkan aku akan sinar di bola matamu
yang selalu memancarkan kehangatan
kadang sulit bagiku menahan kerinduan
yang datang mengoyak serpihan rasa
walau sudah ku tata apik
menantimu di dermaga itu
seperti janji yang kau ucapan.
Dan aku tinggal menunggu waktu
Saat kau genapi janji itu
Di sini, di dermaga cinta kita
Biduk hatiku tetap menantimu
Dalam kerinduan yang tak mengenal batas
Icha Koraag 18/10-2006
Senyumanmu pun tak pudar
Walau purnama tak nampak
rindu ini masih menggelora
ingatkan aku akan sinar di bola matamu
yang selalu memancarkan kehangatan
kadang sulit bagiku menahan kerinduan
yang datang mengoyak serpihan rasa
walau sudah ku tata apik
menantimu di dermaga itu
seperti janji yang kau ucapan.
Dan aku tinggal menunggu waktu
Saat kau genapi janji itu
Di sini, di dermaga cinta kita
Biduk hatiku tetap menantimu
Dalam kerinduan yang tak mengenal batas
Icha Koraag 18/10-2006
PUISI SEORANG KAWAN
Burung gereja masih bersenda gurau
Ditempat yang sama seperti kemarin
Terbang sebentar lalu hinggap di dahan
Menikmati indahnya alam
Aku tak tahu apakah engkau masih di surau
Melantunkan Quraan tuk ketenangan batin
Mengisi waktu diheningan
Kala purnama menerangi malam
Tanda biru di keningmu
Bukti pasrah sujudmu
Pada sang pemilikmu
Yang selalu kau sembah
Tak dapat kuukur Iman dan taqwamu
Tapi satu yang kutahu
Ada satu tempat di sisiNya
Menunggu untuk kau isi
Icha koraag 18/10-2006
Ditempat yang sama seperti kemarin
Terbang sebentar lalu hinggap di dahan
Menikmati indahnya alam
Aku tak tahu apakah engkau masih di surau
Melantunkan Quraan tuk ketenangan batin
Mengisi waktu diheningan
Kala purnama menerangi malam
Tanda biru di keningmu
Bukti pasrah sujudmu
Pada sang pemilikmu
Yang selalu kau sembah
Tak dapat kuukur Iman dan taqwamu
Tapi satu yang kutahu
Ada satu tempat di sisiNya
Menunggu untuk kau isi
Icha koraag 18/10-2006
LELAH
Tiba sudah aku di akhir penantian
bukan pasrah atau putus asa
kala jawabmu tak terdengar
itu ku anggap penolakan
Biar kupergi membawa kecewa ini
Seiring dengan turunnya malam
Yang menghapus jejak siang.
Seperti dirimu yang kupaksa tuk hilang dari hati
Tinggalkan pedih yang menggigit
Icha Koraag, 18/10-2006
bukan pasrah atau putus asa
kala jawabmu tak terdengar
itu ku anggap penolakan
Biar kupergi membawa kecewa ini
Seiring dengan turunnya malam
Yang menghapus jejak siang.
Seperti dirimu yang kupaksa tuk hilang dari hati
Tinggalkan pedih yang menggigit
Icha Koraag, 18/10-2006
Wednesday, October 11, 2006
MATA HATIKU
Mata hati
Sinarmu terpancar penuh kasih dan kelembutan
Menjadi penunjuk langkah yang harus kutempuh
Tapi kadang cahayamu tak dapat kulihat
Sehingga aku menyimpang ke jalan yang gelap
Kalau seruanMu menyentuh gendang telingaku
Tiba-tiba saja cahaya mata hati ini menerangiku
Dapat kulihat tubuh ini yang berbalut dosa
Hingga rasa malu mampu menebus ke ujung kalbu
Masihkah pintu ampunan terbuka untukku, ya Tuhan?
Kala mata hati telah buram oleh hawa nafsu.
Telaga bening dalam jiwa ini menjadi kering.
layu lalu menjadi debu dan terbang dibawa angin
Hingga ahirnya hati menjadi tawar, tak ada lagi rasa.
Ku coba bertahan dengan kekuatanku,
Tapi Tuhan, aku cuma manusia biasa
Masihkah ada waktu bagiku untuk bertobat?
Bisikan caranya padaku, ya Tuhan.
Agar kumampu menjaga mata hati ini
Agar sinarnya tetap menjadi
Penuntu ke jalanMu
(Icha Koraag 12/10-2006)
Sinarmu terpancar penuh kasih dan kelembutan
Menjadi penunjuk langkah yang harus kutempuh
Tapi kadang cahayamu tak dapat kulihat
Sehingga aku menyimpang ke jalan yang gelap
Kalau seruanMu menyentuh gendang telingaku
Tiba-tiba saja cahaya mata hati ini menerangiku
Dapat kulihat tubuh ini yang berbalut dosa
Hingga rasa malu mampu menebus ke ujung kalbu
Masihkah pintu ampunan terbuka untukku, ya Tuhan?
Kala mata hati telah buram oleh hawa nafsu.
Telaga bening dalam jiwa ini menjadi kering.
layu lalu menjadi debu dan terbang dibawa angin
Hingga ahirnya hati menjadi tawar, tak ada lagi rasa.
Ku coba bertahan dengan kekuatanku,
Tapi Tuhan, aku cuma manusia biasa
Masihkah ada waktu bagiku untuk bertobat?
Bisikan caranya padaku, ya Tuhan.
Agar kumampu menjaga mata hati ini
Agar sinarnya tetap menjadi
Penuntu ke jalanMu
(Icha Koraag 12/10-2006)
Friday, September 29, 2006
Surat terbuka untuk Bundaku di rumah.
Surat terbuka untuk Bundaku di rumah
Waktu terus berjalan
Seiring lamunanku yang berlalu
Bathin ini terasa penat
Menghadapi persoalan yang rasanya
tak mau berakhir
Bundaku
Membayang wajahmu
Adalah setitik kebahagiaan
Mengingat telaga bening di bola matamu
Terbayang kedamaian dalam jiwa
Membayang dekapmu
Terasa hangatnya dalam sukmaku
Bundaku
Bunda tiada bercela
Mampukah aku menjadi sepertimu?
Mengelola uang yang tak pernah cukup
Mengasuh dua anak yang tak bisa diam
Mendampingi suami yang kadang marah
Karena lelah setelah seharian bekerja
Bunda
Katakan padaku
Dimana engkau belajar
Menempa diri
Menjadi yang tak terkalahkakn?
Perguruan tinggi telah kulalui
Sekian aturan perusahaan telah kupahami
Tapi aku tetap bodoh
Dalam memahami rahasia kehidupan
Bunda,
Bisikkan padaku
Apa kunci sukses hidupmu?
Ku torehkan pena di akhir Januari 2003.
Icha Koraag
Waktu terus berjalan
Seiring lamunanku yang berlalu
Bathin ini terasa penat
Menghadapi persoalan yang rasanya
tak mau berakhir
Bundaku
Membayang wajahmu
Adalah setitik kebahagiaan
Mengingat telaga bening di bola matamu
Terbayang kedamaian dalam jiwa
Membayang dekapmu
Terasa hangatnya dalam sukmaku
Bundaku
Bunda tiada bercela
Mampukah aku menjadi sepertimu?
Mengelola uang yang tak pernah cukup
Mengasuh dua anak yang tak bisa diam
Mendampingi suami yang kadang marah
Karena lelah setelah seharian bekerja
Bunda
Katakan padaku
Dimana engkau belajar
Menempa diri
Menjadi yang tak terkalahkakn?
Perguruan tinggi telah kulalui
Sekian aturan perusahaan telah kupahami
Tapi aku tetap bodoh
Dalam memahami rahasia kehidupan
Bunda,
Bisikkan padaku
Apa kunci sukses hidupmu?
Ku torehkan pena di akhir Januari 2003.
Icha Koraag
Thursday, September 28, 2006
Sejenak mensyukuri karya Ilahi
Pucuk daun berayun dihembus bayu
Melambai bagaikan gemulai tangan penari
Hijaunya rerumputan nampak berkilau
Bermandi cahaya matahari
Terukir indah lukisan alam, wujud nyata karya Ilahi
Menghapus lamunan kelam dari setiap hati
Ketika congkak dan sombong menguasai jiwa dan hati
Sukma yang kosong tak lagi berarti
Anugrah dan berkat Tuhan, Tak dapat menahan
Setiap tangan dan mulut untuk datang menyembah Tuhan
karena kuasa dan pengasihanMu, Tuhan
kami tak ingin lagi menjauh dari jalanMu
Ajar kami untuk memanfaatkan talenta ini
Melukis aneka warna di atas kanvas kehidupan
Senyata keseharian aktivitas kami
Ketika melakoni dan memahami makna hidup dan kehidupan
Agar kami bisa menikmati semua ciptaanMu
Mensyukuri atas hidup dan kehidupan
menjaga dan merawat bumi
Untuk anak cucu kelak
16 September 2006
Melambai bagaikan gemulai tangan penari
Hijaunya rerumputan nampak berkilau
Bermandi cahaya matahari
Terukir indah lukisan alam, wujud nyata karya Ilahi
Menghapus lamunan kelam dari setiap hati
Ketika congkak dan sombong menguasai jiwa dan hati
Sukma yang kosong tak lagi berarti
Anugrah dan berkat Tuhan, Tak dapat menahan
Setiap tangan dan mulut untuk datang menyembah Tuhan
karena kuasa dan pengasihanMu, Tuhan
kami tak ingin lagi menjauh dari jalanMu
Ajar kami untuk memanfaatkan talenta ini
Melukis aneka warna di atas kanvas kehidupan
Senyata keseharian aktivitas kami
Ketika melakoni dan memahami makna hidup dan kehidupan
Agar kami bisa menikmati semua ciptaanMu
Mensyukuri atas hidup dan kehidupan
menjaga dan merawat bumi
Untuk anak cucu kelak
16 September 2006
Monday, September 25, 2006
BINGKAI KEHIDUPAN
Cahaya kemerahan di ufuk barat, mengundang malam
menandakan sang mentari yang kan terbenam
bagaikan manusia, kelak usia meninggi
mengantarkan makna hidup yang hakiki
Tapak-tapak kehidupan yang dilalui
telah meninggalkan jejak di belakang
namun tak berati semua telah diakhiri
walau sifat waktu yang tak pernah lekang
persahabatan dan kasih adalah hal yang berarti
tak terlupa, bahkan senatiasa mengisi relung hati
menawarkan dahaga akan arti sebuah hubungan
yang akan menjadi indahnya sebuah kenangan
Berpikir dan berkarya terus dilakukan
agar pena keabadian mencatat dalam buku kehidupan
kisah seseorang yang senantiasa berusaha
untuk menjadi yang terbaik bagi sesama
Ketika baju kehidupan di tanggalkan
tak ada arti beda warna kulit
yang ada hanya beda hasil perbuatan
kelak Sang chalik tak kan menilai sulit
Masing-masing nilai yang tertera
adalah sesuai iman dan amalan
kuantitas dan kualitas menjadi pertimbangan
saat kita pulang menghadap,
Pada Dia, sang pemilik kehidupan.
* Selamat ulang tahu Mba Lies!
24 Sept 2006.
Semoga Tuhan menyertai setiap langkah
yang Mba jalani dalam mengisi kehidupan!"
menandakan sang mentari yang kan terbenam
bagaikan manusia, kelak usia meninggi
mengantarkan makna hidup yang hakiki
Tapak-tapak kehidupan yang dilalui
telah meninggalkan jejak di belakang
namun tak berati semua telah diakhiri
walau sifat waktu yang tak pernah lekang
persahabatan dan kasih adalah hal yang berarti
tak terlupa, bahkan senatiasa mengisi relung hati
menawarkan dahaga akan arti sebuah hubungan
yang akan menjadi indahnya sebuah kenangan
Berpikir dan berkarya terus dilakukan
agar pena keabadian mencatat dalam buku kehidupan
kisah seseorang yang senantiasa berusaha
untuk menjadi yang terbaik bagi sesama
Ketika baju kehidupan di tanggalkan
tak ada arti beda warna kulit
yang ada hanya beda hasil perbuatan
kelak Sang chalik tak kan menilai sulit
Masing-masing nilai yang tertera
adalah sesuai iman dan amalan
kuantitas dan kualitas menjadi pertimbangan
saat kita pulang menghadap,
Pada Dia, sang pemilik kehidupan.
* Selamat ulang tahu Mba Lies!
24 Sept 2006.
Semoga Tuhan menyertai setiap langkah
yang Mba jalani dalam mengisi kehidupan!"
Thursday, September 14, 2006
BUNDAKU
![]() |
| Membacakan Puisi Di acara Natal POUKLI 2005 |
Berbilang tahun sudah kau lalui
Aneka peran sudah di lakoni
tinggal mengucap syukur setiap hari
atas Berkat Kasih Illahi
Susah senang telah menyatu
Menjadi kisah haru dan lucu
Saat bercengkarama dengan anak dan cucu
Di temani secangkir kopi susu
Lelah dan keringat
Berubah menjadi semangat
Menuju garis kemenangan
Adakah yang harus ditakuti?
Jika Tuhan senantiasi menyertai?
Menyongsong ulang tahun mami, 24 Sept 2006
ke 77 tahun
(Icha 14 Sept 2006)
Wednesday, September 13, 2006
Puisiku dan Bung Heri Latief
Elisa Koraag wrote:
Bung Heri,
Jika tambo telah terbaca
jelas sudah usul dan asal
Ninik Mamak adat di kampung
tempat curahan hati ditampung
Danau Maninjau di Minangkabau
Tanah harapan para perantau
yang selalu menghimbau
pulang 'tuk menikmati nasi kapau
Walau mual dan pening
Kelok ampe-ampe harus dilalui
Agar tiba di Bukittinggi
yang disambut semiilir angin dingin
Jam gadang nampak menantang
Megah berdiri lah rumah gadang
panggil perantau segera pulang
tuk bersama menggarap ladang
Bila esok mentari terbit
kita bersama menabur bibit
Buka hanya padi dan cabe yang disemai
tapi kasih dan perdamaian.
Salam
Icha
heri latief wrote:
Akar Rumput
minangkabau itu tanah air
demikian mimpimu terasa mengalir
melintasi hijaunya lembah anai
menuruni jeram ngarai sianok
dan bermuara pada kenangan
perjalanan melacak akar rumput
datang kembali menggali memori
dari asal usul sebuah tambo
maka kami adalah turunan Ganggo
salam, heri latief
amsterdam, 17 agustus 2006
Bung Heri,
Jika tambo telah terbaca
jelas sudah usul dan asal
Ninik Mamak adat di kampung
tempat curahan hati ditampung
Danau Maninjau di Minangkabau
Tanah harapan para perantau
yang selalu menghimbau
pulang 'tuk menikmati nasi kapau
Walau mual dan pening
Kelok ampe-ampe harus dilalui
Agar tiba di Bukittinggi
yang disambut semiilir angin dingin
Jam gadang nampak menantang
Megah berdiri lah rumah gadang
panggil perantau segera pulang
tuk bersama menggarap ladang
Bila esok mentari terbit
kita bersama menabur bibit
Buka hanya padi dan cabe yang disemai
tapi kasih dan perdamaian.
Salam
Icha
heri latief
Akar Rumput
minangkabau itu tanah air
demikian mimpimu terasa mengalir
melintasi hijaunya lembah anai
menuruni jeram ngarai sianok
dan bermuara pada kenangan
perjalanan melacak akar rumput
datang kembali menggali memori
dari asal usul sebuah tambo
maka kami adalah turunan Ganggo
salam, heri latief
amsterdam, 17 agustus 2006
SALAH SATU PERMATA HATIKU

Bening bola matanya adalah sumber telaga kekuatanku.
Gelak tawanya adalah rekaman yang selalu ada di memoriku.
Celotehnya adalah kepastian tekadku untuk memberi yang terbaik.
Edut Suredut Pam-pam Dut, itulah panggilan sayang kami untuknya.
PEDIH ITU NIKMAT

Masih kurasa genggaman tanganmu
saat tangan kita saling menjalin
tiada kata terucap
hanya getar rasa yang ada
langit biru saksi bisu
namun takdir berkata lain
pedih itu nikmat
kala rindu datang menyelinap
AKU SI PEMUJA CINTA

02, 06, 06
Ketika engkau datang
bunga-bunga di kebunku selalu bermekaran
Pelangi tak pernah pupus, walau mentari bersinar keras
Seakan ingin selalu menghangatkan hatiku
Gemuruh suaramu luluh lantakan alamku
tapi tetap semaikan rasa itu
walau ombak terus bergulung
tak jadi kendala berarti
untuk terus merasakan cinta
karena aku Si pemuja cinta
Lewat kibasan tanganku
ingin kutebarkan aroma cinta
pada setiap hati yang putih
agar menjadi berwarna
hingga hidup menjadi lebih bermakna
2 Juni 2006
Buat kekasih hatiku.
Icha
SENANDUNG BELAHAN HATI

Heningnya malam, mengiring sunyi
Terdengar senandung belahan hati
Yang mungkin terbaring sepi
merenda mimpi
Di tepi rindu di sini
Ku menanti janji
Peluk cium
Bila kau kembali
Sayangku,
malu diri ini bila harus menyebutmu, sayang
padahal dalam nurani yang paling dalam
kuingin kau memanggilku, sayang.
Seperti ketika kita merajut janji
Sejalan seiring melalui hari
Aku sayangmu
Kamu sayangku
Berbilang tahun sudah berlalu
Rambut putih sudah mengintip
Seakan memberi tanda
Bertambah sudah usia
Namun kalau boleh aku berharap
Rasa diantara kita juga terus bertambah
Karena aku semakin menyadari
Engkau memang si penghuni hati ini.
Untuk kamu, yang sembunyi disisi hatiku.
13 Sept 2006
Audy
Dear Icha,
Indah sekali puisimu
terasa sampai kedasar hati
apa yang dirasa seseorang
yang rindu kata2 sayang
membuat mata jadi memerah
MASIHKAH ADA TEMPAT BAGI SI MISKIN...??

Masihkah ada tempat bagi si miskin di negeri ini?
Jika dengan dalih penertiban dan kerapihan,
Pemerintah kota boleh menggusur pedagang kak lima.
Jika tempat usaha sudah tak ada lagi,
Karena usaha mereka memperburuk penampilan kota.
Masihkah ada tempat bagi si miskin di negeri ini?
Kalau biaya kesehatan tak terjangkau
Karena harga obat menjulang tinggi
Jika hipermarket sudah lebih banyak daripada pasar tradional
Sehingga tak ada lagi sayur yang bisa di tawar
Masihkah ada tempat bagi si miskin di negeri ini?
Jika bahan bakar naik terus hingga uang di saku
Tak lagi cukup untuk bayar ongkos bis kota.
Jika wajib belajar sembilan tahun dan bebas uang sekolah
Hanya slogan semata?
Masihkah ada tempat bagi si miskin di negeri ini?
Kalau pemerintah lebih berpihak pada kecantikan fisik kota
Daripada kesejahteraan sosial rakyatanya?
Kalau ada milyaran rupiah untuk renovasi taman kota
Tapi tak ada lagi subsidi beras, gula dan minyak goreng.
Jika tak ada lagi tempat bagi si miskin di negeri ini
Lalu harus kemanakah orang miskin di negeri ini
Yang faktanya dari tahun ketahun jumlahnya terus meningkat
Subscribe to:
Posts (Atom)
